Respon Pertumbuhan dan Produksi Biomasa Sorghum Mutan Brown Midrib (Sorghum bicolor L. Moench) Terhadap Cekaman Kekeringan

sorghumRESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASA
SORGUM MUTAN BROWN MIDRIB GALUR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) TERHADAP
CEKAMAN KEKERINGAN





SKRIPSI



Oleh:



BOBY JUANDESTA PRATAMA
1410612086




Pembimbing:
Dr. Riesi Sriagtula, S.Pt, MP dan Qurrata Aini, S.Pt, M.Pt





FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2018
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASA
SORGUM MUTAN BROWN MIDRIB GALUR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) TERHADAP
CEKAMAN KEKERINGAN




SKRIPSI




Oleh:



BOBY JUANDESTA PRATAMA
1410612086








Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Peternakan








FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2018

 




RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASA SORGUM MUTAN BROWN MIDRIB GALUR G63 (Sorghum bicolor L. Moench) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN

Boby Juandesta Pratama, dibawah bimbingan
Dr. Riesi Sriagtula, S.Pt, MP dan Qurrata Aini, S.Pt, M.Pt
Bagian Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan
Universitas Andalas Padang, 2018

ABSTRAK

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan produksi biomasa pada galur sorgum mutan BMR G63 (Shorghum bicolor L. Moench). Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Andalas secara eksperimen, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan yaitu A : kadar air tanah 25% dari kapasitas lapang, B : kadar air tanah 50% dari kapasitas lapang, C : kadar air tanah 75% dari kapasitas lapang. Peubah yang diamati adalah pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter batang, panjamg daun, lebar daun, dan jumlah daun) dan produksi (berat segar dan berat kering). Hasil analisis keragaman menunjukkan kadar air tanah yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap seluruh parameter pertumbuhan dan produksi sorgum mutan BMR G63. Rataan tinggi tanaman berkisar antara 49,52 cm – 60,02 cm, diameter batang 2,83 mm – 3,33 mm, panjang daun 44,98 cm – 51,13 cm, lebar daun 1,70 cm – 1,90 cm, jumlah daun 5,67 helai – 6 helai, berat segar tanaman/polybag 3,00 g – 3,56 g, dan berat kering udara tanaman/polybag 059 g – 0,79 g. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sorgum mutan BMR G63 tahan terhadap cekaman kekeringan 75% (kadar air tanah 25%).

Kata Kuci : Cekaman kekeringan, Pertumbuhan, Produksi, Sorgum BMR








HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Saya mahasiswa Universitas Andalas yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Lengkap            : Boby Juandesta Pratama
No. BP                        : 1410612086
Program Studi             : Peternakan
Fakultas                       : Peternakan
Jenis Tugas Akhir        : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Andalas hak atas publikasi online Tugas Akhir saya yang berjudul:
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASA SORGHUM MUTAN BROWN MIDRIB GALUR G63 (Sorghum bicolor L. Moench) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Universitas Andalas juga berhak untuk menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola, merawat, dan mempublikasikan karya saya tersebut di atas selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Padang
Pada tanggal 3 Oktober2018
Yang menyatakan,




(Boby Juandesta Pratama)


RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASA SORGUM MUTAN BROWN MIDRIB GALUR G63 (Sorghum bicolor L. Moench) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN

Boby Juandesta Pratama, dibawah bimbingan
Dr. Riesi Sriagtula, S.Pt, MP dan Qurrata Aini, S.Pt, M.Pt
Bagian Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan
Universitas Andalas Padang, 2018

ABSTRAK

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan produksi biomasa pada galur sorgum mutan BMR G63 (Shorghum bicolor L. Moench). Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Andalas secara eksperimen, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan yaitu A : kadar air tanah 25% dari kapasitas lapang, B : kadar air tanah 50% dari kapasitas lapang, C : kadar air tanah 75% dari kapasitas lapang. Peubah yang diamati adalah pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter batang, panjamg daun, lebar daun, dan jumlah daun) dan produksi (berat segar dan berat kering). Hasil analisis keragaman menunjukkan kadar air tanah yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap seluruh parameter pertumbuhan dan produksi sorgum mutan BMR G63. Rataan tinggi tanaman berkisar antara 49,52 cm – 60,02 cm, diameter batang 2,83 mm – 3,33 mm, panjang daun 44,98 cm – 51,13 cm, lebar daun 1,70 cm – 1,90 cm, jumlah daun 5,67 helai – 6 helai, berat segar tanaman/polybag 3,00 g – 3,56 g, dan berat kering udara tanaman/polybag 059 g – 0,79 g. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sorgum mutan BMR G63 tahan terhadap cekaman kekeringan 75% (kadar air tanah 25%).

Kata Kuci : Cekaman kekeringan, Pertumbuhan, Produksi, Sorgum BMR


KATA PENGANTAR

            Segala puji bagi Allah S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Respon Pertumbuhan & Produksi Biomasa Sorghum Mutan Brown Midrib Galur G63 (shorgum bicolor L. Moench) Terhadap Cekaman Kekeringan”, shalawat beserta salam selalu tercurahkan kepada arwah junjungan kita Nabi Muhammad SAW semoga kita mendapat syafa’atnya diakhir zaman nanti.
            Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Ayahanda dan Ibunda yang selalu memberikan do’a, dukungan dan nasehat-nasehat serta materi sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada ibu Dr. Riesi Sriagtula, S.Pt, MP selaku pembimbing I dan ibu Qurrata Aini, S.Pt, M.Pt selaku pembimbing II atas bimbingan dan arahan selama penulisan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Rusmana Wijaya Setia Ningrat. M.Rur.Sc selaku pembimbing akademik yang telah banyak memberikan arahan serta masukan selama penulis melaksanakan studi di Fakultas Peternakan.
Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Bapak dekan dan jajarannya, Ketua dan Sekretaris program studi ilmu Peternakan, Ketua dan Sekretaris bagian Ilmu dan Teknologi Pakan Ternak, Bapak ibu dosen Fakultas Peternakan serta seluruh Karyawan/i dan Civitas AkademikFakultas Peternakan Universitas Andalas. Seterusnya ucapan Terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan baik materil maupun non materil sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
            Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu masukan, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat sebagai referensi untuk perkembangan ilmu dibidang hijauan pakan ternak di Indonesia.

 Padang, 26 September 2018

Boby Juandesta Pratama
















DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................   i
DAFTAR ISI...............................................................................................   iii
DAFTAR TABEL.......................................................................................   vi
DAFTAR GAMBAR..................................................................................   vii
DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................   viii
I. PENDAHULUAN...................................................................................   1
1.1. Latar Belakang.................................................................................   1
1.2. Perumusan Masalah..........................................................................   4
1.3. Tujuan Penelitian..............................................................................   4
1.4. Manfaat Penelitian...........................................................................   5
1.5. Hipotesis Penelitian..........................................................................   5
II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................   6
2.1.Tanaman Sorgum...............................................................................   6
2.2.Tanaman Sorgum Mutan Brown midrib............................................   9
2.3. Morfologi Tanaman Sorgum............................................................   11
......... 2.3.1. Akar..........................................................................................   11
......... 2.3.2. Batang......................................................................................   11
......... 2.3.3. Tunas........................................................................................   12
......... 2.3.4. Daun.........................................................................................   13
......... 2.3.5. Daun Bendera...........................................................................   14
......... 2.3.6. Bunga.......................................................................................   14
......... 2.3.7. Biji............................................................................................   15
2.4. Pemanfaatan Sorgum  Sebagai Pakan Ternak..................................   15
2.5. Pertumbuhan Tanaman.....................................................................   18
2.6. Peranan  Air Bagi Tanaman..............................................................   22
2.7. Respon Tanaman terhadap Cekaman Kekeringan............................   23
III. MATERI DAN METODE ...................................................................   26
3.1. Materi Penelitian..............................................................................   26
3.1.1.Alat............................................................................................   26
3.1.2. Bahan........................................................................................   26
3.2. Metode Penelitian............................................................................   26
3.3. Prosedur Penelitian...........................................................................   27
3.3.1. Persiapan Media Tanam............................................................   27
3.3.2. Penentuan Kapasitas Lapang....................................................   28
3.3.3. Pelaksanaan Penelitian..............................................................   28
3.4. Peubah Yang Diamati......................................................................   29
1. Tinggi Tanaman..............................................................................   29
2. Diameter Batang.............................................................................   29
3. Jumlah Daun...................................................................................   29
4. Panjang Daun.................................................................................   30
5. Lebar Daun.....................................................................................   30
6. Berat Segar.....................................................................................   30
7. Berat Kering Udara........................................................................   30
3.5. Tempat dan Waktu Penelitian..........................................................   30
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................   31
4.1. Pertumbuhan Tanaman.....................................................................   31
4.2. Produksi Biomasa Tanaman.............................................................   34
V. KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................   36
5.1. Kesimpulan.......................................................................................   36
5.2. Saran.................................................................................................   36
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................   37
LAMPIRAN................................................................................................   46
RIWAYAT HIDUP....................................................................................   74




















DAFTAR TABEL

Tabel
Teks
Halaman

1.      Rataan pertumbuhan sorgum mutan Brown midrib galur G63
     dengan kadar air tanah yang berbeda..........................................   31
2.      Rataan berat segar (g/polybag) dan berat kering udara (g/polybag)
     Sorghum mutan BMR G63 dengan kadar air tanah yang
     Berbeda.......................................................................................   34




















DAFTAR GAMBAR

Gambar
Teks
Halaman

1.      Bentuk malai dan bulir lima ras sorghum.........................................   7
2.      Denah penempatan unit percobaan..................................................   27





















DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
Teks
Halaman
1.      Rekomendasi pupuk.........................................................................   46
2.      Penentuan kapasitas lapang..............................................................   48
3.      Hasil analisa tanah............................................................................   50
4.               Analisis statistik tinggi tanaman sorgum mutan BMR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) umur 70 HST..............................   51
5.               Analisis statistik diameter batang sorgum mutan BMR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) umur 70 HST..............................   54
6.               Analisis statistik jumlah daun sorgum mutan BMR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) umur 70 HST..............................   57
7.               Analisis statistik panjang daun sorgum mutan BMR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) umur 70 HST..............................   60
8.               Analisis statistik lebar daun sorgum mutan BMR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) umur 70 HST..............................   63
9.               Analisis statistik berat segar sorgum mutan BMR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) umur 70 HST..............................   66
10.           Analisis statistik berat kering sorgum mutan BMR G63
(Sorghum bicolor L. Moench) umur 70 HST..............................   69       
11.  Dokumentasi penelitian....................................................................   72














I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hijauan merupakan sumber pakan utama ternak ruminansia. Hijauan merupakan sumber utama serat kasar yang dibutuhkan ternak ruminansia agar proses pencernaan berlangsung secara normal. Namun dalam ketersediaan hijauan yang cukup dan berkelanjutan masih menjadi kendala. Pergantian musim yang tidak menentu dan musim kemarau yang lebih panjang merupakan kendala yang membuat produksi hijauan berfluktuasi (Siregar, 1994). Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dibudidayakan hijauan pakan dengan produksi biomasa yang tinggi dan adaptif pada agroekosistem yang luas, salah satunya adalah tanaman sorgum.
Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) mampu tumbuh dengan berbagai kondisi lingkungan. Tanaman sorgum mempunyai daerah adaptasi yang luas, toleran terhadap kekeringan dan genangan air, dapat berproduksi pada lahan marjinal, serta relatif tahan terhadap gangguan hama dan penyakit (Sirappa, 2003). Tanaman sorgum memiliki perakaran yang lebih ekstensif dan bercabang, sehingga apabila terjadi kekeringan maka perakaran akan menyerap air secara cepat dari yang tersedia (ditandai oleh peningkatan nilai potensial air tanaman, ETA), sehingga recovery berlangsung lebih cepat, selain itu akar tanaman sorgum mampu tumbuh lebih dalam hingga kedalaman 120-180 cm untuk mencari sumber ketersediaan air (Artschwangwer, 1948; Singh et al.1997; Rismunandar, 2006).
Sorgum merupakan tanaman penghasil pakan hijauan sekitar 15-20 ton/ha/tahun dan pada kondisi optimum dapat mencapai 30-45 ton/ha/tahun dalam bentuk segar (Sirappa, 2003). Menurut Mulyani dan Syarwani (2013) Indonesia memiliki lahan kering masam seluas 60%, hal ini merupakan potensi untuk pengembangan dan budidaya  sorgum di  Indonesia sebagai upaya meningkatkan produktivitas lahan marginal dan lahan kering. Penelitian mengenai uji adaptasi sorgum di lahan kering masam sudah banyak dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman sorgum dapat berproduksi di lahan marginal (Rahayu et al, 2011). Sebagai tanaman pakan, sorgum menghasilkan hijauan dan biji-bijian yang merupakan sumber energi dan protein untuk ternak ruminansia, namun pemanfaataan tanaman sorgum sebagai hijauan pakan dibatasi oleh kandungan lignin yang cukup tinggi yaitu 6% (Miller dan Stroup 2003). Menurut Ouda et al. (2005) dewasa ini telah dikembangkan sorgum mutan yaitu sorgum varietas baru yang merupakan hasil mutasi genetik sebagai hijauan pakan ternak di dunia dan dikenal dengan sorgum Brown midrib (BMR).
Sorgum BMR adalah hasil pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi melalui iradiasi sinar gamma,  secara genetik memiliki kandungan lignin lebih rendah dan kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibanding sorgum non BMR (Oliver et al.2005). Produksi segar sorgum mutan BMR adalah 48 ton/ha/panen atau 144 ton/ha/tahun (Sriagtula dan Supriyanto, 2017). Sorgum mutan BMR mengandung 9.28% protein kasar dan 66,47% kecernaan bahan kering (Sriagtula, 2016). Batang dan daun sorgum BMR kurang mengalami lignifikasi, yang mengakibatkan kecernaan dinding sel menjadi lebih tinggi (Miller dan Stroup 2003). Di Indonesia sendiri jenis sorgum mutan BMR sudah dikembangkan di SEAMEO-BIOTROP Bogor. Kemajuan teknologi mutasi telah menghasilkan berbagai jenis sorgum mutan BMR harapan untuk pakan ternak. Kandungan lignin yang lebih rendah pada sorgum BMR diduga dapat mempengaruhi daya tahan tanaman sorgum terhadap kekeringan, karena lignin diperlukan oleh jaringan vaskular untuk mengangkut air. Kandungan lignin yang rendah ini dapat menurunkan kemampuan jaringan vaskular tanaman dalam mengangkut air.  Jaringan vaskular yang rusak ditemukan pada tanaman mutan dengan sintesis lignin yang rendah seperti pada varietas BMR (Sattler et al. 2014). Menurut Pedersen et al. (2005) lignin penting dalam transportasi air, dan memelihara jaringan vaskular pada tanaman. Kandungan lignin yang lebih rendah memungkinkan tanaman mengalami kekurangan air, terutama pada musim kemarau karena ketersediaan air tanah yang berkurang. Akibatnya tanaman tidak mendapatkan asupan air yang mencukupi dan mengalami cekaman kekeringan.
Cekaman kekeringan merupakan kondisi lingkungan tanaman tidak menerima asupan air yang cukup, sehingga tanaman tidak dapat melakukan proses pertumbuhan dan perkembangan secara optimal serta produksi menurun. Cekaman kekeringan adalah masalah utama pada hasil produksi tanaman diseluruh dunia (Farooq etal. 2009). Tanaman dikatakan terpapar cekaman kekeringan yaitu pada kondisi air 30% dari kapasitas lapang, sedangkan kondisi air 70% kapasitas lapang sudah dikatakan cukup air (Xu et al., 2009; Li et al., 2008; Liu et al.,2013; Yang et al., 2014).
Kekeringan yang terjadi pada tanaman dapat mempengaruhi proses morfologi, anatomi, fisiologi dan biokimia. Secara fisiologis, tanaman yang tumbuh pada kondisi kekeringan akan mengurangi jumlah stomata sehingga menurunkan laju kehilangan air yang diikuti dengan penutupan stomata dan menurunnya serapan CO2 bersih pada daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya laju fotosintesis serta fotosintat yang dihasilkan (Salisbury dan Ross, 1992). Secara morfologi tanaman akan merespon cekaman kekeringan dengan mengurangi luas pemukaan daun sehingga transpirasi menurun, mempercepat perkembangan perakaran terutama ke arah  bawah menyebabkan nisbah akar/pucuk meningkat sehingga tanaman lebih mampu mengabsorbsi air dari lapisan tanah yanga lebih dalam sementara transpirasi dari bagian atas tanaman menurun, mengubah sudut daun pada posisi hampir sejajar dengan cahaya, pembentukan lapisan kutikula pada permukaan daun dan batang sehingga mengurangi penguapan, dan penggulungan atau pelipatan daun (Herawati dan Setiamiharja, 2000).
Kekurangan air pada saat pertumbuhan akan menurunkan pertumbuhan tanaman yang dimanifestasikan dalam produksi biomasa. Biomasa sendiri merupakan istilah untuk bobot hidup, biasanya dinyatakan sebagai bobot kering untuk seluruh atau sebagian tubuh organisme, populasi, atau komunitas. Berdasarkan pemikiran tersebut, dilakukan penelitian untuk mengobservasi karakteristik ketahanan kekeringan sorgum mutan BMR G63, ditinjau dari kemampuan berproduksi dalam usaha pemenuhan kebutuhan hijauan pakan secara kontiniu.

1.2 Perumusan Masalah

Apakah tanaman sorgum mutan BMR  memiliki respon yang baik terhadap cekaman kekeringan ditinjau dari  pertumbuhan dan produksi biomasa.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan produksi biomasa galur sorgum mutan BMR G63.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang potensi galur sorgum mutan BMR G63 sebagai pakan yang tahan terhadap cekaman kekeringan dengan produktivitas tinggi di lahan marginal dan lahan kering.

1.5 Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah cekaman kekeringan pada kadar air tanah 25% (dari kapasitas lapang) tidak mempengaruhi pertumbuhan dan produksi biomasa galur sorgum mutan BMR G63.















II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Sorgum

Sorgum merupakan tanaman serealia yang mempunyai daya adaptasi tinggi yaitu lebih tahan terhadap kekeringan bila dibandingkan dengantanaman sereal lainnya serta dapat tumbuh hampir di setiap jenis tanah. Tanaman sorgum tahan terhadap kekeringan, sebagai perbandingan satu kg bahan kering sorgum hanya memerlukan sekitar 332 kg air selama pembudidayaan, sedangkan pada jumlah bahan kering yang sama, jagung membutuhkan 368 kg, barley 434 kg, dan gandum 514 kg air (Suprapto dan Mudjisihono, 1987). Olehkarena itu, sorgum merupakan tanaman yang sangat berpotensi untukdikembangkan menjadi salah satu tanaman alternatif dalam memenuhikebutuhan pangan, pakan, dan industri (Yulita dan Risda, 2006). Menurut ICRISAT-FAO (2002), sebagai pangandunia sorgum berada di peringkat ke-5 setelah gandum, padi, jagung, dan barley.
Hirarki taksonomi tanaman sorgum (Tjitrosoepomo, 2000)adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae
Class                : Monocotyledoneae
Ordo                : Poales
Family              : Poaceae
Sub family        : Panicoideae
Genus              : Sorghum
Species             : bicolor
Sorgum termasuk kelas Monocotyledoneae(tumbuhan biji berkeping satu) dengan subclass: Liliopsida; ordo Poales yang dicirikan melalui bentuk tanaman ternal dengan siklus hidup semusim; famili Poaceae atau Gramineae, yaitu tumbuhan jenis rumput-rumputan dengan karakteristik batang berbentuk silinderdengan buku-buku yang jelas, dan genus Sorgum (Tjitrosoepomo, 2000). Sorgum merupakan tanaman sereal yang termasuk ke dalam famili Poaceae dan tribe Andropogon (Doggett, 1988).
Proses evolusi dan seleksi alamiah serta campur tangan manusia dalam seleksi tanaman telah menghasilkan lima ras sorgum yang dibedakan berdasarkan karakteristik bentuk biji, bulir serta malai (ICRISAT, 2002). Kelima ras tersebut (Gambar 1) adalah bicolor, guinea, caudatum, kafir, dan durra. Ras bicolor adalah ras dengan tipe morfologi yang paling primitif dengan susunan bulir yang terbuka pada malai (Gambar 1). Ras ini secara morfologi menyerupai padi dan banyak terdapat di Afrika dan Asia. Sebagian ras ini juga mempunyai batang yang manis sehingga dapat diolah menjadi sirup atau molasses.
 










Gambar 1. Bentuk malai dan bulir dari lima ras sorgum: 1. Bicolor, 2. Caudatum,3. Durra, 4. Guinea, 5.Kafir (ICRISAT, 2002).

Ras caudatum mempunyai karakteristik biji yang tertutup seperti kura-kura, dimana pada satu sisi datar dan sisi lainnya berbentuk kurva. Bentuk bulir bervariasi dan umumnya tidak simetris (House, 1985). Ras ini banyak terdapat di Afrika, khususnya Chad, Sudan, Uganda, dan Nigeria. Ras durra bentuk bulirnya bulat pada bagian atas dan bagian dasar menyempit. Ras ini banyak dijumpai di Asia Barat, sebagian India dan Afrika (Harlan and De Wet, 1972). Ras ini paling banyak dieksplorasi gennya untuk perbaikan sifat genetik sorgum. Ras guinea mempunyai karakteristik bulir yang tersusun dalam jumlah yang banyak dan terbuka. Biji bulat melebar dengan glume yang relatif lebih sama panjang. Ras ini banyak dijumpai di Afrika Barat dan Malawi. Ras ini banyak dibawa sebagai bekal berlayar pelaut Afrika karena tahan disimpan dalam waktu yang lama. Ras kafir mempunyai karakteristik bulir yang kompak dan berbentuk silinder. Malai memanjang dan agak kompak, tandan cenderung tegak mendekati poros malai. Ras ini  merupakan makanan pokok penduduk di negara-negara beragroekologi savana, seperti Tanzania, Afrika Selatan, dan sejumlah negara lainnya diAfrika (House, 1985).
Diantara spesies sorgum yang ada, yang umum dibudidayakan meliputi tiga spesies, yaitu Sorghum helepense (L.) Pers. (2n=4x-40), Sorghumpropinquum (Kunth) Hitchc. (2n = 2x = 20), dan Sorghum bicolor (L.) Moench. (2n = 2x = 20) (De Wet et al., 1970). Dari ketiga spesies tersebut, yang sangat populer dan menjadi tanaman komersial di dunia adalah Sorghum bicolorL. Moench. Penyebaran spesies ini meliputi berbagai negara di dunia yang dibudidayakan untuk pangan, pakan, dan bahan baku industri (House, 1985).
Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman asli tropis Ethiopia, Afrika Timur, dan dataran tinggi Ethiopia dianggap sebagai pusat utama domestikasi sorgum (Vavilov, 1926). Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) memiliki kandungan gizi yang cukup memadai sebagai bahan pangan. Menurut Departemen Kesehatan RI (1992) sebagai sumber bahan pangan, sorgum memiliki kandungan nutrisi yang baik dengan protein total 9,5%, serat kasar 2,3%, karbohidrat 68%, kalsium 0,11%, metionin 0,35%, sistein 0,35% dan lysin 0,22 %. Selain itu, sorgum sangat potensialsebagai sumber bahan pakan ternak danindustri. Dibandingkan dengan tanaman serealia lainnya, tanaman sorgum juga lebih toleran kekeringan (Doggett 1988). Hal ini disebabkan oleh adanya lapisan lilin pada batang dan daun sorgum yang dapat mengurangi kehilangan air melalui penguapan (transpirasi tanaman). Sorgum manis memiliki keunggulan dibanding tanaman serealia lain diantaranya 1) daya adaptasi luas, 2) sorgum masih dapat menghasilkan pada lahan marginal, 3) budidayanya mudah, 4) biaya relatif murah, 5) dapat ditanam monokultur maupun tumpangsari, 6) dapat di ratoon, 7) lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, 8) sorgum manis merupakan tanaman C4 yang efisien dalam menggunakan CO2, sinar matahari, air dan N dibanding C3 (Young and Long, 2000;  Zhao et al., 2005).
Batang dan daun sorgum memiliki rasa manis dan renyah serta dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, terutama sapi. Di Australia, batang dan daun sorgum telah dikembangkan menjadi forage sorghum dan sweetsorghum untuk pakan (Irawan dan Sutrisna, 2011). Daun dan batang segar sorgum sesuai pula digunakan sebagai hijauan pakan ternak, dengan potensi daun 14-16 % dari bobot batang segar. Nutrisi daun sorgum setara dengan rumput gajah dan pucuk tebu (Sirappa, 2003).

2.2 TanamanSorgumMutanBrown Midrib (BMR)

Sorgum Brown Midrib (BMR) merupakan salah satu hasil mutasi pada tanaman sorgum, yang secara khusus dikembangkan sebagai tanaman pakan. Di Indonesia, pemuliaanmutasi (mutation breeding) telahdiaplikasikanpadabeberapajenistanamanpangan, antara lain padi (Sobrizal, 2007; Ishak, 2012), sorgum (Surya dan Soeranto, 2006; Supriyanto, 2014), kedelai (SoerantodanSihono, 2010). Samurai 1, Samurai 2 danPahatmerupakanvarietassorgummutan yang sudahdilepasuntuktanamanpangan di Indonesia (Human et al., 2011).
Varietas BMR merupakanvarietasmutan yang sangatterkenal di duniadansecarakhusustelahdikembangkansebagaitanamanpakanternak (Ouda et al. 2005).Awalnya BMR adalahhasilmutasigenetikdaribeberapaspesiesrerumputan, dalambeberapatahunterakhirjenis BMR diaplikasikanpadahijauansorgum. Diprediksi 80-85% tanaman yang akandijadikansebagaihijauanpakan di duniaadalahvarietas BMR (Miller dan Stroup 2003).
Galursorgummutan BMR telahdikembangkan di Indonesia olehSupriyanto (2014). Hinggasekarangsudahdihasilkan 7 (tujuh) galursorgummutanyaitugalursorgummutan non BMR Patir 3.1 dangalursorgummutan BMR; Patir 3.2, Patir 3.3, Patir 3.4, Patir 3.5, Patir 3.6 danPatir 3.7.Galur-galursorgummutaninimempunyairagamgenetik yang berbedawalaupunberasaldariindukan yang samayaitu ZH-30.Tanamansorgum BMR memilikikandungan lignin lebihrendah (± 4%) daripadasorgumkonvensional (Miller dan Stroup 2003).MenurutCasler (2001) terjadinyamodifikasistrukturdindingselpada proses mutasimenyebabkankandungan lignin menurundankandunganselulosaserta water soluble carbohydrate (WSC) meningkat. Perubahankandungan lignin keselulosamenyebabkanperubahanwarnapadatulangdaundanbatangdariwarnahijaukewarnamerahkecoklat-coklatan (brown midrib).

2.3. Morfologi Tanaman Sorgum

2.3.1. Akar

Tanaman sorgum merupakan tanaman biji berkeping satu, tidak membentuk akar tunggang, perakaran hanya terdiri atas akar lateral. Tanaman sorgum membentuk perakaran sekunder dua kali lebih banyak dari jagung. Ruang tempat tumbuh akar lateral mencapai kedalaman 1,3-1,8 m, dengan panjang mencapai 10,8 m. Sebagai tanaman yang termasuk kelas monokotiledon, sorgum mempunyai sistem perakaran serabut (Artschwager, 1948; Singh et al., 1997; Rismunandar, 2006). Perakaran tanaman sorgum sanggup menopang pertumbuhan dan perkembangan tanaman ratun hingga dua atau tiga kali lebih kuat, dan menjadikan tanaman toleran kekeringan (House, 1985; Artschwager, 1948; Singh et al., 1997; du Plessis, 2008). Toleransi sorgum terhadap kekeringan disebabkan karena pada endodermis akar sorgum terdapat endapan silika yang berfungsi mencegah kerusakan akar pada kondisi kekeringan. Sorgum juga efisen dalam penggunaan air karena didukung oleh sistem perakaran sorgum yang halus dan letaknya agak dalam sehingga mampu menyerap air dengan cukup (Doggett,1970).

2.3.2. Batang

Batang tanaman sorgum merupakan rangkaian berseri dari ruas (internodes) dan buku (nodes), tidak memiliki kambium. Pada bagian tengah batang terdapat seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan keras (sel-sel parenchym). Tipe batang bervariasi dari solid dan kering hingga sukulen dan manis. Jenis sorgum manis memiliki kandungan gula yang tinggi pada batang gabusnya, sehingga berpotensi dijadikan sebagai bahan baku gula sebagaimana halnya tebu (Hunter and Anderson, 1997; Hoeman, 2012). Bentuk batang tanaman sorgum silinder dengan diameter pada bagian pangkal berkisar antara 0,5-5,0 cm. Tinggi batang bervariasi, berkisar antara 0,5-4,0 m, bergantung pada varietas (House, 1985; Artschwager, 1948; Du Plessis, 2008).
Pada tanaman sorgum manis, bagian dalam batang berair (juicy) karena mengandung gula. Kandungan gula pada saat biji masak fisiologis berkisar antara 10-25% (Hunter and Anderson, 1997). Kandungan gula pada tanaman sorgum manis merupakan karbohidrat yang dapat terfermentasi (fermentable carbohydrates) 15-23%. Kandungan gula tersebut terdiri atas sukrosa 70%, glukosa 20%, dan fruktosa 10%. Sorgum manis mampu memproduksi biomasa 20-50 t/ha (Shoemaker and Bransby, 2010). Batang dan daun sorgum mirip dengan jagung. Tinggi batang sorgum manis yang dikembangkan di China dapat mencapai 5 m, dan struktur tanaman yang tinggi ideal dikembangkan untuk pakan ternak dan penghasil gula (FAO, 2002). Tinggi tanaman sorgum berhubungan erat dengan umur dan jumlah daun, pada tanaman berumur genjah tinggi dan jumlah daun lebih sedikit daripada tanaman berumur dalam.

2.3.3. Tunas

Pada beberapa varietas sorgum, batangnya dapat menghasilkan tunas baru membentuk percabangan atau anakan dan dapat tumbuh menjadi individu baru selain batang utama (House, 1985). Ruas batang sorgum bersifat gemmiferous, setiap ruas terdapat satu mata tunas yang bisa tumbuh sebagai anakan atau cabang. Tunas yang tumbuh pada ruas yang terdapat di permukaan tanah akan tumbuh sebagai anakan, sedangkan tunas yang tumbuh pada batang bagian atas menjadi cabang (Artschwager, 1948). Pertumbuhan tunas atau anakan bergantung pada varietas dan lingkungan tumbuh tanaman sorgum. Pada suhu kurang dari 18oC memicu munculnya anakan pada fase pertumbuhan daun ke-4 sampai ke-6. Tanaman sorgum tahunan mampu menghasilkan anakan 2-3 kali lebih banyak dari sorgum semusim. Kemampuan menghasilkan anakan dan tunas lebih banyak menjadikan tanaman sorgum bisa dipanen untuk kemudian di ratun (Hunter and Anderson, 1997; du Plessis, 2008). Cabang pada tanaman sorgum umumnyatumbuh bila batang utama rusak. Jumlah cabang dan anakan bergantung pada varietas, jarak tanam, dan kondisi lingkungan (Artschwager, 1948).

2.3.4. Daun

Daun merupakan organ penting bagi tanaman, karena fotosintat sebagai bahan pembentuk biomasa tanaman dihasilkan dari proses fotosintesis yang terjadi di daun (Sitompul dan Guritno, 1995). Sorgum mempunyai daun berbentuk pita, dengan struktur terdiri atas helai daun dan tangkai daun. Posisi daun terdistribusi secara berlawanan sepanjang batang dengan pangkal daun menempel pada ruas batang. Panjang daun sorgum rata-rata 1 m dengan penyimpangan 10-15 cm dan lebar 5-13 cm (Artschwager, 1948; House, 1985). Jumlah daun bervariasi antara 7-14 helai, bergantung pada varietas (Artschwager, 1948; Martin, 1970; Gardner et al., 1981).
Daun melekat pada buku-buku batang dan tumbuh memanjang, yang terdiri atas pelepah dan helaian daun. Pada pertemuan antara pelepah dan helaian daun terdapat ligula (ligule) dan kerah daun (dewlaps). Helaian daun muda kaku dan tegak, kemudian menjadi cenderung melengkung pada saat tanaman dewasa. Helaian daun berbentuk lanselot, lurus mendatar, berwarna hijau muda hingga hijau tua dengan permukaan mengkilap oleh lapisan lilin. Stomata berada pada permukaan atas dan bawah daun. Tulang daun lurus memanjang dengan warna bervariasi dari hijau muda, kuning hingga putih, bergantung pada varietas (Artschwager, 1948). Hasil penelitian Bullard dan York (1985) menunjukkan bahwa banyaknya daun tanaman sorgum berkorelasi dengan panjang periode vegetatif, yang dibuktikan oleh setiap penambahan satu helai daun memerlukan waktu 3-4 hari. Freeman (1970) menyebutkan bahwa tanaman sorgum juga mempunyai daun bendera (leafflag) yang muncul paling akhir, bersamaan dengan inisiasi malai.

2.3.5. Daun Bendera

Daun bendera (flag leaf), merupakan daun yang terakhir (terminal leaf) sebelum muncul malai, memiliki fungsi yang sama sebagai organ fotosintesis dan menghasilkan fotosintat. Daun bendera umumnya lebih pendek dan lebar dari daun-daun pada batang (House, 1985). Pelepah daun bendera menyelubungi primordia bunga selama proses perkembangan primordial bunga. Fase ini disebut sebagai fase booting, yang dalam bahasa Indonesia sering di sebut fase bunting. Daun bendera akan membuka oleh dorongan pemanjangan tangkai bunga dan perkembangan bunga dari primordial bunga menjadi bunga sempurna yang siap untuk mekar. Pelepah dan daun bendera di lapisi oleh lapisan lilin yang tebal (Singh et al., 1997). Daun bendera muda bentuknya kaku dan tegak dan akan melengkung seiring dengan fase penuaan daun.

2.3.6. Bunga

Rangkaian bunga sorgum berada pada malai di bagian ujung tanaman. Sorgum merupakan tanaman hari pendek, pembungaan dipicu oleh periode penyinaran pendek dan suhu tinggi (Pedersen et al., 1998). Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle/malai(susunan bunga di tangkai) (Hunter and Anderson, 1997). Bunga sorgum secara utuh terdiri atas tangkai malai (peduncle), malai (panicle), rangkaian bunga (raceme), dan bunga (spikelet).

2.3.7. Biji

Biji sorgum yang merupakan bagian dari tanaman memiliki ciri-ciri fisik berbentuk bulat (flattened spherical) dengan berat 25-55 mg (Dicko et al., 2006). Biji sorgum berbentuk butiran dengan ukuran 4,0 x 2,5 x 3,5 mm. Berdasarkan bentuk dan ukurannya, sorgum dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu biji berukuran kecil (8-10 mg), sedang (12-24 mg), dan besar (25-35 mg). Biji sorgum tertutup sekam dengan warna coklat muda, krem atau putih, bergantung pada varietas (Mudjisihono dan Suprapto, 1987).

2.4.  Pemanfaatan Sorgum Sebagai Pakan Ternak

Sorgum merupakan salah satu tanaman multifungsi yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan, bioetanol dan bahan baku dalam industri (pembuatan gula, kertas dan lain-lain) (Dicko et al. 2006). Hal tersebut menyebabkan sorgum sangat potensial dikembangkan karena tiap bagian dari sorgum dapat dimanfaatkan. Kandungan nutrisi pada sorgum meliputi 83% karbohidrat, 3,5 % lemak dan 11% protein. Selain itu sorgum mengandung Ca, Fe, P dan vitamin B1 yang lebih tinggi dibandingkan beras (Suarni, 2004; DEPKES RI, 1992).
Tanin (proanthocyanidin) merupakan senyawa fenol yang diperkirakan sebagai senyawa antinutrisi, namun di sisi lain telah diketahui pula peranan tanin sebagai antioksidan (Dicko etal. 2006). Tanin pada tanaman sorgum berfungsi melindungi biji dari jamur, serangga dan burung sebelum masa panen sehingga dapat menguntungkan secara ekonomis. Kandungan tanin berkaitan dengan proses pencernaan di dalam tubuh, khususnya pada pencernaan pati. Semakin tinggi kandungan tanin sorgum, maka kemampuan pencernaan pati akan semakin menurun (Siller, 2006). Tanin dapat berikatan dengan protein dan karbohidrat membentuk senyawa komplek tidak larut yang sulit dipecahkan oleh enzim pencernaan. Tanin diduga pula dapat berikatan dengan enzim pencernaan, seperti sukrase, amilase, tripsin dan lipase sehingga menghambat aktivitas enzim tersebut (Awika dan Rooney 2004). Kandungan tanin sorgum berkisar 2-4% tergolong tinggi dan dapat menyebabkan ikatan dengan protein (Duodu et al. 2003).
Selain dapat difermentasi menjadi etanol, kandungan gula pada batang sorgum dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Bahkan sisa ekstraksi juice batang juga dapat digunakan sebagai pakan ternak karena kaya akan nutrisi mikro dan mineral (Reddy et al. 2007). Daun dan batang segar sorgum sesuai pula digunakan sebagai hijauan pakan ternak, dengan potensi daun 14-16 % dari bobot batang segar. Nutrisi daun sorgum setara dengan rumput gajah dan pucuk tebu (Sirappa, 2003). Pada banyak negara, biji sorgum digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Di negara maju biji sorgum digunakan sebagai pakan ternak unggas sedang batang dan daunnya untuk ternak ruminansia. Hijauan sorgum biasanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak perah dan ternak yang digemukkan. Hijauan sorgum sangat palatabel terutama tanaman yang masih muda dan yang sedang berbunga. Nilai nutrisi yang dikandung sorgum menjelang berbunga adalah bahan kering 21%, protein kasar 12,8%, lemak 2,0%, serat kasar 31,5% dan BETN 44,6% (Legel, 1990).
Produk lain yang dapat dikembangkan dari tanaman sorgum adalah biomasa. Keseluruhan bagian tanaman sorgum merupakan biomasa yang sangat potensial untuk dijadikan bahan pakan segar bagi ternak (Sari, 2009).Supriyanto (2010) menjelaskan bahwa batang dan daun sorgum dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak terutama sapi karena batangnya renyah dan manis, di Australia dikembangkan forage sorgum dan sweet sorgum untuk pakan ternak. Kandungan gula pada batang sorgum dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahkan sisa ekstraksi juice batang juga dapat digunakan sebagai pakan ternak karena kaya akan nutrisi mikro dan mineral (Reddy et al.2007). Batang sorgum manis yang menghasilkan nira biasanya dapat digunakan sebagai bioetanol dan pakan ternak (Nurdyastuti, 2008).
Daun dan batang segar sorgum sesuai pula digunakan sebagai hijauan pakan ternak, dengan potensi daun 14-16 % dari bobot batang segar dan memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan dengan rumput gajah (Sumantri,1995). Nutrisi daun sorgum setara dengan rumput gajah dan pucuk tebu (Sirappa, 2003) dan produktivitas biomasanya lebih tinggi dibanding jagung atau tebu (Hoeman, 2007). Biji sorgum juga dapat digunakan dalam ransum pakan ternak. Biji sorgum dapat diberikan secara langsung pada ternak maupun diolah terlebih dahulu dengan dicampur bahan lain. Sorgum manis merupakan tanaman multiguna. Batang, nira, dan bijinya mengandung lignoselulosa dan sakarida terfermentasi yang tinggi (Whitfield et al.2011) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan hijauan ternak yang bermutu (Sirappa 2003, Atmodjo, 2011). Pakan hijauan ternak perlu didukung oleh varietas sorgum manis yang memiliki keunggulan biomas, daya ratun, dan kandungan gula nira batang yang tinggi (Efendi et al, 2013).

2.5. Pertumbuhan Tanaman

Tanaman merupakan makhluk hidup yang memiliki ciri yaitu kesanggupannya untuk tumbuh dan berkembang. Tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan cara yang berbeda. Pertumbuhan merupakan bertambah besarnya sel yang menyebabkan bertambah besarnya jaringan, organ dan akhirnya menjadi keseluruhan makhluk hidup (Suarna et al., 1993).
Pertumbuhan tanaman ditunjukkan dengan adanya pertambahan ukuran sel dan bahan kering yang mencerminkan pertambahan protoplasma (Harjadi, 1983). Leiwakabessy (1998) menyatakan bahwa pertumbuhan ditentukan dengan peningkatan berat kering, tinggi tanaman atau diameter batang, lebih lanjut lagi Harjadi (1983) bahwa pada masa pertumbuhan vegetative tanaman terdapat tiga proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap awal dari diferensiasi sel. Ketiga proses akan mengembangkan batang, daun dan sistem perakaran. Proses pembelahan sel terjadi pada pembuatan sel-sel baru, selanjutnya akan tumbuh membesar dan memanjang. Tahap pertama dari diferensiasi terjadi pada perkembangan jaringan primer. Semua proses dalam pertumbuhan ini memerlukan karbohidrat sebagai bahan baku energi disamping protein dan lemak. Kekurangan persediaan karbohidrat akan berakibat terganggunya ketiga proses tersebut yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan tanaman. Winaya (1983) menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor genetis, sedangkan yang termasuk faktor ekstrinsik adalah semua faktor yang terdapat di sekitar tanaman (lingkungan) seperti: tanah, air, dan iklim. Pertumbuhan dan produksi hijauan makanan ternak sangat tergantung pada daya tahan bibit atau kemampuan untuk berkembang, kemampuan daya saing, daya tahan terhadap kekeringan, kemampuan menyerap radiasi dan tingkat kesuburan tanah dimana tanaman itu tumbuh. Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman adalah fotosintesis. Fotosintesis adalah proses untuk memproduksi gula (karbohidrat) pada tumbuhan, beberapa bakteri dan organisme non-seluler (seperti jamur, protozoa) dengan menggunakan energi matahari, yang melalui sel-sel yang berespirasi energi tersebut akan dikonversi ke dalam bentuk ATP sehingga dapat digunakan seluruhnya oleh organisme tersebut. Reaksi umum dan proses fotosintesis adalah:  6 H20 + 6 CO2cahaya matahari C6H1206+ 602.
Proses fotosintesis berlangsung dalam dua proses. Proses pertama merupakan proses yang tergantung pada cahaya matahari, yaitu reaksi terang yang membutuhkan energi cahaya matahari langsung dan molekul - molekul energi cahya tersebut belum dapat digunakan untuk proses berikutnya. Oleh karena itu pada reaksi terang ini, energi cahaya matahari yang belum dapat digunakan tersebut akan dikonversi menjadi molekul - molekul energi yang dapat digunakan yaitu dalam bentuk energi kimia. Konversi energi cahaya menjadi energi kimia dilakukan oleh aktivitas pigmen daun (klorofil). Dalam reaksi terang, cahaya matahari akan membentuk klorofil-a sebagai suatu cara untuk membangkitkan elektron agar menjadi suatu energi dengan tingkatan yang lebih tinggi. Dua pusat reaksi pada pigmen tersebut yang bekerja secara berantai mentransfer elektron. Elektron diperoleh dengan memecah air (H20) sehingga terjadi pelepasan 02dan 02 tersebut yang kemudian mengkonversi energi menjadi ATP dan NADP. Proses kedua adalah proses yang tidak membutuhkan cahaya (reaksi gelap) yang terjadi ketika produk dari reaksi terang digunakan untuk membentuk ikatan kovalen C-C dari karbohidrat. Pada proses ini, C02 atmosfer ditangkap dan dimodifikasi oleh penambahan hydrogen menjadi bentuk karbohidrat, reaksi gelap ini berlangsung dalam stroma kroloplas. Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan merupakan proses yang penting dalam kehidupan dan perkembangbiakan suatu spesies. Pertumbuhan dan perkembangan adalah proses yang berlangsung secara terus menerus sepanjang daur hidup, bergantung pada tersedianya meristem, hasil asimilasi, hormon dan substansi pertumbuhan lainnya, serta lingkungan yang mendukung (Gardner et al, 1991).
Pertumbuhan merupakan resultante dari interaksi berbagai reaksi biokimia, peristiwa biofisik dan proses fisiologis dalam tubuh tanaman bersama dengan faktor luar. Titik awalnya adalah sel tunggal zigot, yang tumbuh dan berkembang menjadi organisme multisel. Sintesis molekul yang besar dan kompleks berlangsung terus menerus dari ion dan molekul yang lebih kecil, pembelahan sel menghasilkan sel-sel baru, yang banyak dan diantaranya tidak hanya membesar tapi juga berubah melalui proses yang lebih kompleks. Sehingga tidak saja terjadi perubahan bentuk, pertumbuhan juga menyebabkan terjadinya perubahan aktivitas fisiologi, susunan biokimia serta struktur dalamnya. Proses ini disebut diferensiasi. Pertumbuhan serta diferensiasi sel menjadi, jaringan, organ, dan organisme disebut perkembangan.  Perkembangan dinamakan juga morfogenesis, karena melalui perkembangan tumbuhan mengubah bentuk dirinya dari zigot menjadi sebatang pohon (Hasnunidah, 2011).
Tanaman sorgum mempunyai pola pertumbuhan yang sama dengan jagung, namun interval waktu antara tahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai setiap tahap bergantung pada varietas dan lingkungan tumbuh. Faktor lingkungan tersebut antara lain kelembaban dan kesuburan tanah, hama dan penyakit, cekaman abiotik, populasi tanaman, dan persaingan gulma. Pertumbuhan tanaman sorgum dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu, fase vegetatif, fase reproduktif, dan pembentukan biji dan masak fisiologis (du Plessis 2008).
Pada fase vegetatif bagian tanaman yang aktif berkembang adalah bagian-bagian vegetatif seperti daun dan tunas/anakan. Fase ini sangat penting bagi tanaman karena pada fase ini seluruh daun terbentuk sempurna berfungsi memproduksi fotosintat untuk pertumbuhan dan pembentukan biji. Fase vegetatif berlangsung pada saat tanaman berumur antara 1-30 hari (House 1985,  Gerik et al. 2003, dan  Vanderlip 1993).
Fase generatif umumnya berlangsung pada saat tanaman berumur 30-60 HST (Vanderlip 1993). Pada suhu panas, sorgum akan berbunga lebih cepat, dan pada kondisi suhu yang lebih rendah pembungaan sedikit lebih lambat (House 1985). Inisiasi bunga menandai akhir fase vegetatif dan dimulainya fase reproduktif/generatif. Pada fase ini terbentuk struktur malai (panicle) dan jumlah biji yang bias terbentuk dalam satu malai. Fase ini sangat penting bagi produksi biji karena jumlah biji yang akan diproduksi maksimum 70% dari total bakal biji yang tumbuh periode ini. Jika pertumbuhan malai terganggu akan menurunkan jumlah biji yang akan terbentuk (du Plessis 2008).
Fase pembentukan dan pemasakan biji merupakan tahap akhir pertumbuhan tanaman sorgum, yang berlangsung pada saat tanaman mencapai umur 70-95 HSB (Vanderlip 1993). Fase ini diawali dengan proses pembuahan, hingga akumulasi bahan kering pada biji terhenti yang ditandai oleh munculnya lapisan hitam (black layer) pada bagian bawah biji yang menempel di tangkai (Gerik et al. 2003). Perkembangan biji sorgum ditandai oleh perubahan warna, pada awal pembentukan berwarna hijau muda, dan setelah sekitar 10 hari akan semakin besar dan berwarna hijau gelap, setelah 30 hari biji akan mencapai bobot kering maksimal (matang fisiologis) (House 1985). Di dalam biji, endosperm berkembang lebih cepat daripada embrio (Kladnik et al. 2006).

2.6 Peranan Air bagi Tanaman

Air membentuk 35-70% dari  bobot segar  tanaman yang sedang tumbuh (Taiz dan Zeiger, 2002). Air berfungsi sebagai senyawa utama pembentuk protoplasma, senyawa pelarut bagi masuknya mineral-mineral dari larutan tanah ke tanaman dan sebagai pelarut mineral nutrisi yang akan diangkut dari satu bagian sel ke bagian sel lain, media terjadinya reaksi-reaksi metabolik, reaktan pada sejumlah reaksi metabolisme seperti siklus asam trikarboksilat, penghasil hidrogen pada proses fotosintesis, mengatur mekanisme gerakan tanaman seperti membuka dan menutupnya stomata, membuka dan menutupnya bunga serta melipatnya daun-daun tanaman tertentu, serta  digunakan dalam proses respirasi (Noggle dan Frizt, 1983).
Menurut Fitter dan Hay (2002), air pada sel tanaman merupakan media yang tepat untuk banyak reaksi biokimia.  Jenis dan umur tanaman, kadar air tanah dan kondisi cuaca adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebutuhan air pada tanaman. Ketersediaan air dalam tanaman diperoleh melalui proses fisiologis dan hilangnya air dari permukaan bagian tanaman melalui proses evaporasi dan transpirasi.

2.7 Respon Tanaman terhadap Cekaman Kekeringan      

Cekaman kekeringan terjadi ketika ketersediaan air tanah menurun dan kondisi atmosfir menyebabkan kehilangan air terus menerus melalui transpirasi atau evaporasi (Taiz dan Zeiger, 2002).  Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling penting karena dapat menghambat fotosintesis, menurunkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman (Zlatev dan Lidon, 2012). Menurut Borges (2003), beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya cekaman kekeringan pada tanaman adalah: tingginya kecepatan evaporasi yang melebihi persediaan air dari tanah ke akar yang akan mengakibatkan penurunan potensial air, adanya senyawa yang bersifat osmotik yang dapat menurunkan pengambilan air sehingga terjadi penurunan potensial osmosis dan tidak cukupnya pengambilan air oleh tanaman yang diserap dari tanah. Cekaman kekeringan ditandai dengan rendahnya kadar air, penutupan stomata dan berkurangnya pembesaran dan pertumbuhan sel. 
Tanaman mengembangkan beberapa mekanisme dalam menghadapi cekaman kekeringan seperti mekanisme penghindaran dan toleran dari dehidrasi sel dan jaringan (Turner, 1986). Respon tanaman terhadap cekaman kekeringan berbeda tergantung pada intensitas dan lama dari cekaman itu sendiri, jenis tanaman dan tingkatan pertumbuhannya (Chaves et al., 2002). Mekanisme yang dikembangkan oleh tanaman dalam menghadapi cekaman kekeringan, adalah: mekanisme penghindaran, dan mekanisme toleran. Respon tanaman dalam menghadapi cekaman kekeringan dengan mekanisme penghindaran (avoidance mechanisms) adalah dengan  mengurangi perkembangan daun, penurunan kadar air relatif dan jumlah cabang, dan tanaman yang mengembangkan mekanisme toleran (tolerance mechanisms) adalahdengan peningkatan rasio akar:tajuk dan penurunan ukuran sel mesofil (Li et al., 2010).Levitt (1980) membedakan antara penghindaran dan toleransi (ketahanan) terhadap suatu faktor pencekam tertentu. Pada penghindaran, organisme memberi tanggapan dengan memperlemah akibat faktor pencekam. Sebaliknya, jika tumbuhan mengembangkan toleransi, tumbuhan tersebut memang toleran atau tahan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan.
Tanaman yang menggunakan mekanisme penghindaran berusaha untuk mempertahankan potensial air tetap tinggi dan tanaman yang toleran terhadap kekeringan adalah dapat mentolerir saat terjadinya defisit air. Pada saat  kondisi air terbatas,  tanaman akan mengalami kekurangan air dan sel tanaman akan dehidrasi (potensial air dan kadar air relatif mengalami penurunan) (Jenk dan Hasegawa, 2005). Menurut  Salwa dan Heba (2011) tanaman yang mengembangkan mekanisme toleran terhadap kekurangan air bisa dihubungkan dengan akumulasi dari osmoprotektan seperti gula terlarut.
Jaleel et al., (2008) menyatakan bahwa cekaman kekeringan ditandai dengan penurunan kandungan air,  penurunan  potensial air total,  pelayuan daun, penutupan stomata dan pengurangan ukuran daun. Cekaman kekeringan yang paling parah dapat  menyebabkan kematian karena fotosintesis terhenti dan metabolisme terhambat.  Menurut Hamim (2004) respon tanaman terhadap cekaman kekeringan tergantung pada genetik tanaman; perbedaan morfologi  dan metabolisme akan menghasilkan respon yang berbeda. Cekaman kekeringan dapat menghambat pertumbuhan tanaman, salah satunya dapat dilihat pada perluasan daun, penurunan luas daun merupakan respon pertama tanaman terhadap kekeringan. Keterbatasan air akan menghambat pemanjangan sel yang secara perlahan akan menghambat pertumbuhan luas daun. Kecilnya luas daun akan menyebabkan rendahnya transpirasi, sehingga menurunkan suplai air dari akar ke daun. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus lama kelamaan akan terjadi absisi daun (Taiz & Zeiger, 2002). Luas daun menurun selama cekaman kekeringan akibat melambatnya proses pembelahan sel dan ukuran daun tetap kecil untuk meminimalkan hilangnya evapotranspirasi (Bibi et. al., 2010).
Menurut Pugnaire et al.(1999) tanaman merespon cekaman kekeringan dengan melakukan perubahan ditingkat seluler  yaitu  perubahan pertumbuhan tanaman seperti:  volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya bulu bulu halus pada daun,  peningkatan ratio akar-tajuk,  penurunan laju fotosintesis, serta  perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon.Cekaman  kekeringan menurunkan laju ekpansi relatif daun, jumlah daun, tinggi tanaman, dan rasio tajuk akar tergantung pada tahap perkembangan dari tanaman itu sendiri pada saat terjadi stres (Vurayai et al., 2011).







III.MATERI DAN METODE

3.1 Materi Penelitian

3.1.1 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain polibag, ayakan, meteran, jangka sorong, gunting, kantong kertas, timbangan, gelas ukur, kertas label, ember, oven 60oC dan  105oC.

3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benihgalur sorgum mutan BMR G63, tanah, pupuk kandang, pupuk kimia (urea, TSP, KCl), dan air.

3.2 Metode Penelitian           

Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), degan 3 perlakuan dan 6 ulangan, dimana perlakuan A kadar air tanah 25% dari kapasitas lapang, perlakuan B kadar air tanah 50% dari kapasitas lapang, dan perlakuan C kadar air tanah 75% dari kapasitas lapang.
Model matematis Rancangan Acak Lengkap menurut Steel dan Torrie (1991) adalah sebagai baerikut;
 = µ +  +
Keterangan :
 = nilai pengamatan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
µ   = nilai tengah umum
 = pengaruh perlakuan ke-i
= galat percobaan          
 i  = perlakuan
 j  = ulangan
Data yang diperoleh  dianalisis dengan analisis sidik ragam (ANOVA) menurut Steel and Torrie (1991).

B5
A1
C1
A2
A6
A5
A3
C6
B6
C2
A4
B1
C4
B4
C3
B3
B2
C5
 









Gambar 2. Denah penempatan unit  percobaan
Keterangan :
A         = Penggunaan air 25% kapasitas lapang
B         = Penggunaan air 50% kapasitas lapang
C         = Penggunaan air 75% kapasitas lapang

3.3. Prosedur Penelitian

3.3.1 Persiapan media tanam

Media tanam yang digunakan adalah 20 kg tanah dan pupuk kandang dengan dosis 5 ton/ha (50 g) untuk masing-masing polybag (Muhaka et al, 2012). Tanah dan pupuk kandang diayak menggunakan saringan 0,5 cm. Seluruh polybag juga diberikan pupuk dasar urea 200 kg/ha, TSP 97,8 kg/ha, dan KCl 50 kg/ha (Nurmala dan Irwan, 2007), dengan dosis masing-masing pupuk per polybag penelitian berturut-turut adalah sebanyak 2 g, 0,978 g, dan 0,5 g. Untuk mengetahui kapasitas lapang tanah penelitian, dilakukan pengukuran kadar air media (tanah) pada kondisi kapasitas lapang sehingga dapat diketahui berapajumlah air yang harus ditambahkan pada tiap polybag sesuai dengan perlakuan kadar air tanah yang telah ditetapkan.

3.3.2 Penentuan kapasitas lapang

Penentuan kapasitas lapang merujuk pada Hendriyani dan Setiari (2009). Pengukuran kapasitas lapang dilakukan dengan cara menyiapkan media tanam sebanyak 500 g dalam 3 buah polibag, disiram dengan air sampai jenuh, kemudian didiamkan selama tiga hari sampai tidak ada lagi air yang menetes. Setelah tiga hari, ditimbang berat masing-masing polybag dan didapatkan berat basah (Tb). Selanjutnya tanah dioven dengan suhu 1050 C, selama 24 jam, sehingga didapatkan berat kering (Tk). Kemudian hitung kapasitas lapangnya dengan rumus :
            (Islami dan Utomo, 1995)
Keterangan :
W = Kapasitas lapang
Tb = Berat Basah
Tk = Berat Kering
Hasil pengukuran kapasitas lapang tanah prapenelitian didapatkan nilai kapasitas lapang dari tanah yang akan digunakan adalah 37%  37 ml, sehingga untuk 100% kapasitas lapang tanah 20 kg diperlukan air sebanyak 1480 ml. Jadi untuk kadar air tanah 25%, 50%, dan 75% dari kapasitas lapang untuk 20 kg tanah didapatkan hasil 370 ml, 740 ml, dan 1110 ml secara berturut-turut.

3.3.3 Pelaksanaan Penelitian

Penanaman benih sorgum dengan cara tugal pada lubang tanam di polybag kapasitas 20 kg. Tiap lubang ditanam 3-4 benih sorgum dengan kedalaman 5 cm, setelah benih berkecambah dan tumbuh normal kemudian dilakukan pencabutan dengan menyisakan satu tanaman yang tumbuh paling baik per lubang tanam. Tanaman dipelihara sampai berumur satu bulan. Satu hari sebelum perlakuan cekaman kekeringan dimulai, seluruh polybag disiram sampai jenuh. Perlakuan cekaman kekeringan dilakukan dengan melakukan penyiraman sesuai dengan dosis kadar air tanah sesuai perlakuan,  penyiraman dilakukan setiap pagi pada jam 8:00 WIB.Pengukuran pertumbuhan dan produksi tanaman dilakukan saat akhir penelitian dan setelah tanaman di panen (umur 70 hari).

3.4. Peubah yang diamati

Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun),dan produksi (berat segar dan berat kering). Metode yang digunakan untuk mengamati peubah tersebut adalah sebagai berikut:
1.        Tinggi tanaman (cm)
Diukur pada saat akan panen untuk mengetahui pertumbuhan tanaman. Tinggi tanaman diukur dari atas tanah hingga ujung daun tertinggi dari tanaman tersebut dengan menggunakan meteran.
2.        Diameter batang (mm)
Diukur pada saat akan panen untuk mengetahui ukuran lingakar batang menggunakan jangka sorong, diukur pada buku pertama di atas permukaan tanah.
3.        Jumlah daun (helai)
Jumlah daun dihitungpada saat akan panen untuk mengetahui jumlah daun tanaman. Daun yang telah mati tidak dihitung.

4.        Panjang daun (cm)
Diukur dari pangkal pelepah daun sampai ujung helai daun dengan cara merentangkan daun dan diukur menggunakan meteran.
5.        Lebar daun (cm)
Dilakukan dengan cara mengukur lebar daun dari daun paling lebar, biasanya pada daun ke-4 atau ke-5 dengan menggunakan meteran.
6.        Beratsegar (g)
Pengukuran beratsegar(batang, daun, dan malai) dilakukan saat panen dengan cara menimbang berat segar sesaat setelah panen.
7.        Berat kering udara (g)
Pengukuran berat kering dilakukan setelah panen dengan cara dilakukan pengeringan secara diangin-anginkan selama satu hari. Selanjutnya dilakukan pengeringan menggunakan oven 600c selama 48 jam, kemudian ditimbang sebagai berat kering tanaman.

3.5. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Andalas dimulai pada bulan September–Desember 2017.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pertumbuhan Tanaman

            Salah satu parameter yang sering diamati terhadap cekaman kekeringan adalah pertumbuhan.Pengaruhcekamankekeringanterhadappertumbuhantanamansorgum BMR yang ditelitiditunjukkanpadaTabel 1.
Tabel 1. Rataan pertumbuhan sorgum mutan brown midrib galur G63 dengan kadar air tanah yang berbeda.
Parameter
Perlakuan
Rataan
SE
Panjang daun (cm)
A
44,98
6,17
B
45,92

C
51,13
Lebar daun (cm)
A
1,70
0,27
B
1,88

C
1,90
Jumlah daun (helai)
A
5,67
0,47
B
5,83

C
6,00
Tinggi tanaman (cm)
A
49,52
6,12
B
51,37

C
60,02
Diameter batang (mm)
A
2,83
0,35
B
3,33

C
3,33
Keterangan: NS: Non Signifikan atau Berbeda tidak nyata (P>0,05)
A: kadar air tanah 25% dari kapasitas lapang; B: kadar air tanah 50% dari kapasitas lapang; C: kadar air tanah 75% dari kapasitas lapang
Rataan pertumbuhan tanaman sorgum mutan BMR G63 disajikan pada Tabel 1. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa kadar air tanah yang berbeda tidak berpengaruh secara nyata (P>0,05) terhadap seluruh parameter pertumbuhan sorgum mutan BMR G63. Panjang daun, lebar daun, jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang menujukkan respon yang cukup baik dalam menghadapi cekaman kekeringan. Hasil ini menunjukkan bahwa sorgum mutan BMR G63 memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi terhadap cekaman kekeringan sehingga tidak menghambat pertumbuhan. Sesuai dengan Franscasco et al. (2016) yang menyatakan bahwa bila dibandingkan dengan tanaman sereal lainnya, sorgum merupakan spesies yang paling cocok untuk lingkungan yang rawan kekeringan. Sejalan dengan itu Zubair, (2016) menyatakan bahwa sorgum sangat efisien dalam penggunaan air (kira-kira sebesar 20% lebih kecil dari jagung), dan kebutuhan akar air yang paling banyak hanya pada awal pertumbuhan saja ketika sorgum masih memiliki 2-3 helai daun (21 hari pertama pertumbuhan), untuk selebihnya kebutuhan akar air sorgum sangatlah sedikit. Pada daun tanaman sorgum mutan BMR juga dilapisi oleh lapisan lilin dan daunnya dapat menggulung pada kondisi panas yang tinggi dan kekurangan air, dengan kemampuan menggulung ini sorgum dapat mengurangi luas permukaan daun secara keseluruhan sehingga penguapan akan berkurang.
Meskipun tidak berpengaruh secara nyata, namun secara angka  pertumbuhan tanaman lebih tinggi pada kadar air tanah yang tinggi dan lebih rendah pada kadar air tanah yang semakin rendah yaitu 50% dan 25% (Tabel 1). Pada Tabel 1 dapat dilihat ukuran panjang daun, lebar daun, tinggi tanaman, dan diameter batang menurun pada tingkat cekaman kekeringan yang semakin tinggi (kadar air rendah), hal ini mengindikasikan secara tidak langsung cekaman kekeringan mempengaruhi pertumbuhan sorgum mutan BMR G63. Hal ini sependapat dengan hasil penelitian Xu et al. (2009) dan Nio and Banyo (2011) yang menyatakan bahwa respon tanaman terhadap kekeringan dapat berupa penurunan panjang dan lebar daun,hal ini karena ketika beradaptasi terhadap cekaman kekeringan, terjadi penghambatan pertumbuhan. Sebagaimana halnya pembentukan daun juga dipengaruhi oleh pembelahan dan pembesaran sel.   Diketahui bahwa daerah – daerah (zona)  titik tumbuh pada tanaman dikenal sebagai zona meristematik, daerah ini dipenuhi dengan sel–sel meristematik yang selalu membelah. Aktivitas pembelahan sel dapat menyebabkan pertambahan jumlah sel yang mempengaruhi pertambahan ukuran tubuh tanaman. Akan tetapi pada kondisi kekurangan air, aktivitas pembelahan sel dapat menurun  atau bahkan terhenti, sehingga tidak ada penambahan ukuran sel.
Selain disebabkan oleh ketersediaan air aktivitas pembelahan sel juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara tanah, unsur hara tanah yang rendah dapat menghambat aktivitas pembelahan sel sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan pertambahan ukuran tubuh tanaman. Berdasarkan hasil analisis tanah (Lampiran 3) tanah yang digunakan merupakan tanah ultisol dengan pH 4,8 dan KTK tanah yang rendah (9,98) sehingga ketersediaan hara tanah juga rendah. Menurut Beti et al, (1990) pH tanah dibawah 5 kurang sesuai untuk pertumbuhan tanaman sorgum, karena tanah masam dengan tingkat pH kurang dari  5  berhubungan dengan ketersediaan hara N, P, K, Ca, Mg, dan Mo yang sangat terbatas, serta adanya Al terlarut dalam jumlah cukup tinggi. Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungan nya dengan kesuburan tanah.Menurut Balai Penelitian Tanah (2005) tanah dengan nilai KTK kecil dari 16 me/100 g tergolong rendah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Menurut Grundon et al, (1987) kahat hara pada tanaman sorgum seperti kekurangan N, P, dan K dapat menyebabkan tanaman tumbuh lambat,batang kecil, tipis dan mudah rebah, daun menyempit dan pendek, tanaman memendek, sistem perakaran tidak berkembang dengan baik dan terlambat masak, ukuran bijidan malai kecil sehingga hasil menurun, dan menyebabkan pemendekan antara ruas-ruas batang.
 Penurunan ukuran pertumbuhan pada tanaman dengan kadar air yang rendah merupakan salah satu respon dalam menghadapi cekaman kekeringan. Hal ini sesuai dengan Hussain et al. (2008) yang menyatakan bahwa mitosis yang terganggu (pemanjangan dan perluasan sel) mengakibatkan penurunan tinggi tanaman, luas daun, dan per tumbuhan pada tanaman yang mengalami kekeringan.

4.2 Produksi Biomasa Tanaman

            Produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh kadar air, salah satu pengaruh cekaman kekeringan adalah penurunan akumulasi biomasa tanaman. Pengaruh kadar air yang berbeda terhadap produksi biomasa sorgum mutan BMR G63 ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Rataan berat segar (g)/polybag, dan berat kering udara (g)/polybag sorgum mutan BMR G63 dengan kadar air tanah yang berbeda.
Parameter
Perlakuan
Rataan
SE
Berat segar tanaman
A
3,00
0,45
B
3,39

C
3,56
Berat kering udara tanaman
A
0,59
0,28
B
0,60

C
0,79
Keterangan: NS: Non Signifikan atau Berbeda tidak nyata (P>0,05)
A: kadar air tanah 25% dari kapasitas lapang; B: kadar air tanah 50% dari kapasitas lapang; C: kadar air tanah 75% dari kapasitas lapang.

Produksi biomasa segar dan produksi biomasa kering udara sorgum mutan BMR G63 pada penelitian juga sejalan dengan pertumbuhannya, dimana perlakuan cekaman kekeringan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap kedua parameter produksi tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa sorgum BMR mampu mempertahankan produksinya tetap stabil pada kondisi air yang rendah meskipun ada penurunan produksi pada kadar air tanah 25% dari kapasitas lapang. Hasil ini sejalan dengan Franscasco et al. (2016) dan Young and Long.(2000) yang menyatakan bahwa sorgum merupakan tanaman sereal yang paling tahan serta mampu berproduksi pada lingkungan yang marginal dan rawan kekeringan.
Rataan berat segar dan berat kering sorgum mutan BMR G63 yang disajikan pada Tabel 2 terlihat bahwaproduksi biomasa tanaman sorgum lebih tinggi pada kadar air tanah 75% (C) dibandingkan dengan kadar air tanah yang lebih rendah yaitu 50% dan 25% (B dan A). Hasil ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung cekaman kekeringan mempengaruhi produksi tanaman sorgum. Hal ini sesuai dengan pendapat Craufurd dan Peacock (1993) yang menyatakan bahwa pada sorgum, penurunan hasil panen saat stres air/cekaman kekeringan terutama disebabkan oleh variasi akumulasi biomasa tanaman total.














V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

            Kesimpulan yang diambil pada penelitian ini adalah sorgum mutan BMR G63 tahan terhadap cekaman kekeringan 75% dari kapasitas lapang (kadar air tanah 25%).

5.2. Saran

            Sorgum mutan BMR G63 berpotensi untuk dibudidayakan sebagai tanaman pakan yang tahan terhadap kekeringan.



















DAFTAR PUSTAKA

Artschwager, E. 1948. Anatomy and morphology of the vegetative organs of sorghum vulgare. United States Department of Agriculture. Thechnical Bulletin 975. Pp 55.

Atmodjo, M.C.T. 2011. Tanaman sorgum manis (Sorghum bicolorL. Moench) pada berbagai umur tanaman untuk pakan ternak. Seminar Sains dan Teknologi-IV. Bandar Lampung 29-30 November 2011. http://lemlit.unila.ac.id/file/Arsip2012/Prosidin%20Seminar%20SATEK%20IV/Buku%202/STK%202031.pdf. Diakses 22 Mei 2018.

Awika JM.and Rooney LW. 2004. Sorghum phytochemicals and their potential impact on human health. Phytochemistry 65:1199-1221.

Balai Penelitian Tanah. 2005. Petunjuk teknis analisa kimia tanah,tanaman, air, dan pupuk. Balai Penelitian Tanah. Bogor. 136 hlm.

Beti Y., A. Ispandi. dan Sudaryono. 1990. Sorgum. Monograf Balitan Malang No.5. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang.

Bibi, A., H. A. Sadaqat, H. M. Akram and M. I. Mohammed (2010). Physiological markers for screening Sorghum (Sorghum bicolorL.). Germplasm under water stress condition.Int. J. Agric. Biol. 12(3): 451-455.

Borges, R. 2003. How soybeans respond to drought stress. Issues in agriculture [internet]. [diacu 2018 mei 23]. Tersedia dari:www.Uvex.edu/ces/ag/issues/drough2003/soybeansrespondstress.html16k

Bullard, R.W. and J.O.York 1985. Breeding for Bird Resistance in Sorghum and Maize. In Russell, G.E (Eds). Plant breeding progress riviews. Butterworth. Surrey 1:193-222.

Casler MD. 2001. Breeding forage crops for increased nutritional value. Advan. Agron. 71, 51–107.

Chaves, MM., Pereira JS., Maroco J., Rodrigues ML., Ricardo CP., Osorio ML., Carvalho I., Faria T. and Pinheiro C. 2002. How plants cope with water stress in the field. Photosynthesis and growth. Annals Bot. 89: 907–916.

Craufurd P.Q and J.M. Peacock. 1993. Effect of heat and drought stress on sorghum (Sorghum bicolor). II. Grain yield. Experimental Agriculture 29: 77-86

DEPKES RI. 1992. Daftar komposisi bahan makanan. Penerbit Bratara. Jakarta.

De Wet, J.M.J., J.R.Harlan, and E.G. Price.1970. Origin of variability in the Spontanea complex of Sorghum bicolor. American Journal of Botany 57(6):704-707.

Dicko, M.H., H. Gruppen, A.S., Traoré, W.J.H van Berkel, and A.G.J Voragen. 2006. Sorghum grain as human food in Africa: relevance of content of starch and amylase activities. African Journal of Biotechnology 5 (5): 384-395.

Doggett, H. 1970. Shorgum. Longmans Green & Co. Ltd. Cambridge, USA.

Doggett, H. 1988. Sorghum, 2nd ed. Longman scientific &technical, burnt mill, Harlow, Essex, England; John Wiley & Sons, New York.

Du Plessis, J. 2008. Sorghum production. Republic of South Africa Department of Agriculture. www.nda.agric.za/publications.

Duodu KG., Taylor JRN., Belton PS. And Hamaker BR. 2003. Factors affecting proteins sorghum digestibility. Journal of Cereal Science38: 117-131.

Efendi R., M. Aqil., dan Marcia Pabendon. 2013. Evaluasi Genotipe Sorgum Manis (Sorghum bicolor (L.) Moench) Produksi Biomas dan Daya Ratun Tinggi.Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 32(2).

Farooq, M., A. Wahid., N. Kobayashi., D. Fujita and S.M.A. Basra, 2009.Plant drought stress: effects, mechanisms and management. Agron.Sustain. Dev., 29: 185–212

FAO. 2002. Sweet sorghum in China. Spotlight 2000.

Fitter, AH.and Hay, RKM. 2002. Environmental Physiology of Plants. Third Ed. Academic Press. A Division of Harcourt Inc.

Fracasso, A. and L. M. Trindade, S. 2016. Amaducci. Drought stress tolerance strategiesrevealed by RNA-Seq in two sorghum genotypes with contrasting WUEBMC Plant Biology (2016) 16:115.

Freeman, J.E. 1970. Development and structure of the sorghum plant and its fruit. In Joseph S. Wall dan William M. Ross (Eds.) Sorghum production and utilization: major feed and food crops in agriculture and food series. The Avi Publishing Company, Connecticut. Pp. 28-72.

Gardner, B.R., B.L. Blad, R.E., Maurer, and D.G. Watt. 1981. Relationship between crop temperature and physiological and fenological development of differentially irrigated corn. Agron. J. 73: 743-747.

Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (Edisi TerjemahanOleh Herawati Susilo dan Subiyanto). Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Gerik, T., B. Bean. and R.L. Vanderlip. 2003. Sorghum growth and development. Texas Cooperative Extension Service.

Grundon, N.J., D.G. Edwards., P.N. Takkar., C.J. Asher. and R.B. Clark. 1987. Nutritional desorders of grain sorghum. Australian Centre for International Agricultural Research. 96p.

Hamim. 2004. Underlaying drought stress effect on plant: inhibition of photosynthesis. Hayati 11: 164-169.

Harjadi, S. S. 1983. Pengantar Agronomi. P. T. Gramedia, Jakarta

Harlan, J.R. and J.M.J.De Wet.1972. A simplified classification of cultivated sorghum. Crop Science12(2):172-176.

Hasnunidah, N. 2011. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Hendriyani, I.S. dan N. Setiari. 2009. Kandungan klorofildan pertumbuhan kacang panjang (Vigna sinensis) padatingkat penyediaan air yang berbeda. J. SainsMatematika 17: 145-150.

Herawati T dan Setiamiharja R. 2000. Pemuliaan Tanaman. Departemen pertanian RI dengan Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Jatinangor, Bandung.

Hoeman, S. 2007. Peluang dan potensi pengembangan sorgummanis. Makalah Workshop Peluang dan Tantangan SorgumManis sebagai Bahan Baku Bioetanol. Ditjen Perkebunan,Departemen Pertanian, Jakarta. 10 p.

Hoeman, S. 2012. Prospek dan potensi sorgum sebagai bahan baku bioetanol. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Jakarta Selatan.

House, L.R. 1985. A guide to sorghum breeding. 2ndEd. International Crops Research Institute for Semi-Arid Tropics (ICRISAT). India. 206 p.

Hunter, E.L. and I.C. Anderson. 1997. Sweet sorghum. In J. Janick (Eds.) Horticultural riviews. Department of Agronomy Iowa State University. John willey and Sons.Inc. 21: 73-104

Human S., Andreani S., Sihono. dan Indriatama WM. 2011. Stability test for sorghum mutant lines derived from induced mutations with gamma-ray irradiation.  Atom Indonesia. 37 ( 3): 102-106
Hussain M., Malik M.A., Farooq M., Ashraf M.Y. dan Cheema M.A. 2008. Improving drought tolerance by exogenous application of glycine-betaine and salysilic acid in sunflower. J. Agron. Crop. Sci. 194: 193-199.

ICRISAT. 2002. Annual report of sorghum research and  dissemination.International Crops Research Institute for the SemiArid Tropics. FAO. 2002. Sweet sorgum in china. Spotlight 2000.

Irawan, B. dan N. Sutrisna. 2011. Prospek pengembangan sorgum di Jawa Barat mendukung diversifikasi pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 29 (2): 99-113.

Ishak. 2012. Agronomic traits, heritability and G x E interaction of upland rice (Oryza sativa L.) mutant lines. J. Agron. Indonesia 40:105-111.

Islami, T. dan Utomo, W.H. 1995. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP. Semarang Press. Semarang.

Jaleel CA., Manivannan P., Lakshmanan GMA., Gomathinayagam M., Panneerselvam R. 2008. Alterations in morphological parameters and photosynthetic pigment responses of Catharanthus roseus under soil water deficits. Colloids Surf. B: Biointerfaces, 61: 298–303.

Jenk MA. and Hasegawa PM. 2005. Plant Abiotic Stress. 1st ed. Blackwell Publishing Ltd. Oxford. UK.

Kladnik, A., P.S. Chourey., D.R. Pring, and M. Dermastia. 2006. Development ofthe endosperm of Sorghum bicolor during the endoreduplicationassociated growthphase. Journal of Cereal Science 43:209-215.

Legel, S. 1990. Tropical Forage Legums and Grasses. Institut of Tropical Agriculture of The Karl-Mark-University, Leipzig.

Leiwakabessy, F. M. 1998. Diklat Kuliah Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Levitt J. 1980. Responses of Environmental Stresses. Vol II. New York : Academika Press.

Li FL., Bao WK. and Wu N. 2010. Morphological, anatomical and physiological responses of Campylotropis polyantha (Franch.) Schindl seedling to progressive water stress. Scientia Horticulturae 127: 436-443.

Li KR., Wang HH., Han G., Wang QJ. and Fan J. 2008. Effects of brassinoline on the survival, growth, and drought resistance of Robinia pseudoacacia seedlings under water-stress. New Forests 35, 255-266.

Liu X., Fan Y., Long J., Wei R., Kjelgren R., Gong C. and Zhao J. 2013. Effects of soils water and nitrogen availability on photosynthesis and water use efficiency of Robinia pseudoacacia seedlings. Journal of Environmental Sciences 25(3), 585-595.

Martin, J. H. 1970. History and classification of sorghum. In J.S. Wall and W.M. Ross (Eds.). Sorghum production and utilization. The Avi Publishing Co. Inc. Westport Connecticut. 702 p.

Miller FR, Stroup JA. 2003. Brown midrib forage sorghum, sudangrass, and corn: What is the potential? Proc. 33rd California Alfalfa and Forage Symposium, pp.143-151

Mudjisihono dan Suprapto. 1987. Budidaya dan pengolahan sorgum. Penebar Swadaya, Jakarta.

Muhaka., A. Napoleon. dan P. Rosa. 2012. Pengaruh pemberian pupuk cair terhadap produksi rumput gajah taiwan (pennisetum purpureum schumachI). Jurnal Peternakan Sriwijaya. 1 (1): 48-54.

Mulyani, A dan M. Syarwani. 2013. Karakteristik dan Potensi Lahan Sub Optimal untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. Dalam: Prosiding Seminar Nasional. Unsri Press, Palembang.

Nio,S. A. dan Y. Banyo. 2011. Konsentrasi klorofil daun sebagai indikator kekurangan air pada tanaman Fakultas MIPAniversitas SamRatulangi: Manado

Noggle GR. and Fritz GJ. 1983. Introductory plant physiology. Prentice-Hall, Inc.  Englewood Cliffs. New Jersey.

Nurmala, T. and A.W. Irwan. 2007. Pangan alternatif berbasis serealia minor. Giratma. Bandung.

Nurydastuti,I. 2008. Prospek Pengembangan bioufel sebagai substitusi bahan
bakar minyak.
Http://www.sinarharapan.com. Diakses 20 November 2017

Oliver AL., Pederson JF., Grant RJ. and Klopfenstein TJ. 2005. Comparative effects of the sorghum bmr-6 and bmr-12 genes: I. Forage sorghum yield and quality. Crop Sci. 45, 2234-2239

Ouda, J. O., Njehia, G. K., Moss, A. R., Omed, H. M. and Nsahlai, I. V., 2005. The nutritive value of forage sorghum genotypes developed for the dry tropical highlands of Kenya as feed source for ruminants. South Afr. J. Anim. Sci., 35 (1): 55-60

Pedersen, J.F., H.F. Kaeppler., D.J. Andrews, and R.D. Lee. 1998. Chapter 14. Sorghum In Banga S.S and S.K Banga (Eds.) Hybrid cultivar development. Springer-Verlag. India.  432-354.

Pedersen JF., Vogel KP. and Funnell DL. 2005. Impact of reduced lignin on plant fitness. Crop Sci. 45, 812–819.

Pugnaire FI., Serrano L. and Pardos J. 1999. Constrains by Water Stress on Plant  Growth. 271-283. In M. Pessarakli (Ed.). Handbook of plant and crop stress. 2nd. Marcell Dekker. New York.

Rahayu, M., Samanhudi. dan Wartoyo. 2011. Uji Adaptasi beberapa varietas sorgum manis di lahan kering wilayah Jawa Timur. Artikel Carada Tani DIPA. (http.//eprints. Uns.ac .id/12608/1/Publikasi_Jurnal_(22).pdf) di akses 29 maret 2018.

Reddy, B.V.S., J.W. Stenhouse, and H.F.W. Rattunde. 2007. Sorghum Grain Quality Improvement for Food, Feed and Industrial Uses. Edisi Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 4 39−52.

Rismunandar. 2006. Sorgum tanaman serba guna. Sinar Baru. Bandung. 71 p.

Salisbury., dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.

Salwa MA. and  Heba IM. 2011. Alleviation of adverse effects of drought stress on common bean (Phaseolus vulgaris L) by exogenous application of hydrogen peroxide. Bangladesh J. Bot. 41(1): 75-83.

Sari, R. P. S. 2009. Pembuatan Etanol Dari Nira Sorgum Dengan Proses Fermentasi. Universitas Diponegoro. Semarang

Sattler SE, Saballos A, Xin Z, Harris DLF, Vermerris W, andPedersen JF. 2014. Characterization of Novel Sorghum brown midrib Mutants from an EMSMutagenized Population. G3 (Bethesda). 4(11): 2115–2124.

Shoemaker, C.E. and D.I. Bransby. 2010. Chapter 9: the role of shorgum as a bioenergi feedstock in R. Broun, D. Karlen and D. Johnson (Eds.) Proceeding of the sustainanle Feedstock for advance Biofuels Workshop: sustainable alternative fuel feedstock oportunities, challenges, and roadmaps for six U.S. regions.Pp 149-160.

Siller ADP. 2006. In Vitro Starch digestibility and estimated glycemic index of sorghum  products [tesis]. Texas: Food Science and Technology, Texas A & M University.

Singh, F., K.N. Rai., B.V.S Reddy, and B. Diwakar. 1997. Development of cultivars and seed product ion techniques in sorghum and pear l millet. Training manual. Training and Fellowships Program and Genet ic Enhancement Division, ICRISAT Asia Center , India. Patancheru 502324, Andhra Pradesh. International Crops Research Institute for the Semi -Arid Tropics.India. 118. (Semi – formal publication).

Sirappa, M. P. 2003. Prospek pengembangan sorgum di Indonesia sebagai komoditas alternatif untuk pangan, pakan, dan industri. Jurnal Litbang Pertanian 22: 133-140.

Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis pertumbuhan tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sobrizal. 2007. Rice mutation on candidate of restorer mutant lines. J. Agron. Indonesia 35:75-80.

Soeranto, H. dan Sihono. 2010. Sorghum breeding for improved drought tolerance using induced mutation with gamma iiradiation. Indonesian Jurnal of Agronomy. 38 (2) : 95-99

Sriagtula R. 2016. Evaluasi produksi, nilai nutrisi dan karakteristik serat galur sorgum mutan brown midrib sebagai bahan pakan ruminansia [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Sriagtula R dan Supriyanto. 2017. Produktivitas dan kualitas beberapa galur sorgum mutan brown midrib sebagai single feed. Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (PERIPI), dengan tema Pemanfaatan Sumber daya Genetik untuk Perbaikan Produktivitas dan Kualitas. Bogor 2-3 Oktober 2017.

Steel, R.G.D dan Torrie, J.H. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan       Biometri Ed.2 Cetakan ke-2. Alih Bahasa Bambang Sumantri. PT. Gramedia       Pustaka Utama, Jakarta

Suarna, I.M., I. B. G. Pratama, I K. Mendra, I W. Suarna, M. A. P. Duarsa, dan N. N. C. Kusumawati. 1993. Fisiologi Tanaman Makanan Ternak. Program Studi Tanaman Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Denpasar.

Suarni. 2004. Pemanfaatan tepung sorgum untuk produk olahan. Jurnal litbang pertanian 23 (4):145-151.

Sumantri. 1995. Nilai Nutrisi Daun dan Batang Tanaman Sorgum Manis Sebagai Hijauan Pakan Ternak. Tanaman Sorgum. Edisi Khusus Balitkabi. 4 : 287–292.

Suprapto., dan R. Mudjisihino. 1987. Budidaya dan Pengolahan Sorgum. Jakarta: Penebar Swadaya.
Supriyanto. 2010. Pengembangan sorgum di lahan kering untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan, energi dan industri.  Makalah Simposium Nasional 2010: Menuju Purworejo Dinamis dan Kreatif.  http://dppm.uii.ac.id

Supriyanto. 2014. Development of promising sorghum mutant lines for improved fodder yield and quality under different soil types, water availability and agroecological zones. Integrated Utilization of Cereal Mutant Varieties in Crop/Livestock Systems for Climate Smart agriculture (D2.30.30) and Workshop on Aplication of Nuclear Techniques for Increased Agricultural Production, 18-21 Agustus 2014, SEAMEO-BIOTROP, Bogor.

Surya MI, Soeranto H. 2006. Pengaruh irradiasi sinar gamma terhadap pertumbuhan sorgum manis (Sorghum bicolor L.). Risalah Seminar Ilmiah Aplikasi lsotop dan Radiasi. 206-215.

Taiz L., Zeiger E. 2002. Plant Physiology. 3rd Ed. Sinauer Associates, Inc.

Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi tumbuhan (spermatophyta). Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta

Turner, N. C. 1986. Adaptation to water deficits: a changing perspective. Aust. J. Plant Physiol. 13:175-189.

Vanderlip., R.L. 1993. How a grain sorghum plant develops. Kansas State University.

Vavilov, N.I. 1926. Studies on origin of cultivated plants. Bull. Appl. Bot. 16(20): 248. Cited by D. Singh. 1993. NBPGR. Indian Cancel of Agricultural Research. New Delhi, India.

Vurayai R., Emongor V. and Moseki B. 2011. Effect of water stress imposed at different growth and development stages on morphological traits and yield of Bambara groundnouts (Vigna subterranean L. verdc). American Journal of Plant Physiology 6(1): 17-27.

Whitfield M.B., M.S. Chinn, and M.W. Veal. 2011. Processing ofmaterials derived from sweet sorghum for biobased products.Industrial Crops and Products 37:362-375.

Winaya, D. 1983. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Uadayana. Bali.

Xu F., Guo W., Wang R., Xu W., Du N, and Wang Y. 2009. Leaf movement and photosynthetic plasticity of black locust (Robinia pseudoacacia) alleviate stress under different light and water conditions. Acta Physiol Plant. 31, 553-563.

Yang Y., Tang M., Sulpice R., Chen H., Tian S and Ban Y. 2014. Arbuscular mycorrhizal fungi alter fractal dimension characteristics of Robinia pseudoacacia L. seedlings through regulating plant growth, leaf water status, photosynthesis, and nutrient concentration under drought stress. J. Plant growth Regul. 33(3), 612-625.

Young KJ , and Long SP. 2000. Crop ecosystem responses to climatic change: maize and sorghum. In: Reddy KR, Hodges HF (eds) Climate change andglobalcrop productivity. CAB International, London. 107-131.

Yulita, R. dan Risda. 2006. Pengembangan sorgum di Indonesia. Direktorat Budi daya Serealia. Ditjen Tanaman Pangan, Jakarta.

Zhao, D.,  K. R. Reddy., V. G. Kakani, dan V. R. Reddy. 2005. Nitrogen deficiency effects on plant growth, leaf photosynthesis, and hyperspectral reflectance properties of shorgum. Europ. J. Agronomy 22 : 391 – 403.

Zlatko Zlatev and Fernando Cebola Lidon. 2012. An overview on drought induced changes in plant growth, water relations and photosynthesis. Emir. J. Food Agric. 2012. 24 (1): 57-s72.

Zubair, A. 2016. Sorgum tanaman multi manfaat. Unpad Press: Bandung.
















Lampiran 1. Perhitungan Rekomendasi Pupuk

Berat Tanah 1 ha (100 m × 100 m)
Ketebalan Tanah         : 20 cm
Berat Jenis Tanah        : 1 gr/cm3
Berat Tanah 1 ha         = 100 m × 100 m × 20 cm × 1 gr/cm3
                                    = 104 cm × 104 cm × 20 cm × 1 gr/cm3
                                    = 2 × 109 gr
                                    = 2 × 106 Kg
Rekomendasi pupuk yang digunakan yaitu :
Pupuk Kandang          : 5 ton/ha
Pupuk Urea                 : 200 kg/ha
Pupuk TSP                  : 97,8 kg/ha
Pupuk KCL                 : 50 kg/ha
1. Pupuk kandang
= × 5000 kg
= 0,05 kg/polybag
= 0,5 gr/polybag
2. Pupuk Urea
= × 200 kg
= 0,002 kg/polybag
= 2 gr/polybag


3. Pupuk TSP
= × 97,8 kg
= 0,000978 kg/polybag
= 0,978 gr/polybag
4. Pupuk KCL
            = × 50 kg
            = 0,0005 kg/polybag
            =  0,5 gr/polybag




















Lampiran 2. Penentuan kapasitas lapang
Diketahui :
Berat media tanah yang digunakan untuk menentukan kapasitas lapang (g)
Ulangan
Berat Basah
Berat Kering
1
577
407
2
543
426
3
567
400
Rataan
562,33
411
Keterangan: Berat basah: berat tanah setelah dijenuhkan dan didiamkan selama 3 hari. Berat kering: berat tanah setelah di oven 1050C

Rumus kapasitas lapang :
Kapasitas lapang tanah
           
           
Kadar air tanah untuk 500 g media tanah adalah 37 ml, jika media tanah yang digunakan 20kg (2x104 g) maka kadar tanah nya sebagai berikut:
Kadar air tanah yang dibutuhkan untuk media tanah 20 kg (100% kapasitas lapang tanah) adalah 1480 ml.
Untuk perlakuan 75%, 50%, dan 25% kapasitas lapang dihitung sebagai berikut:
Jadi untuk perlakuan kadar air tanah 75%, 50%, dan 25% pada media tanah 20 kg adalah 1110 ml, 740 ml, dan 370 ml secara berturut-turut.























Lampiran 3. Hasil Analisa Tanah
Hasil analisis tanah
No
Unsur Analisa
Satuan
Hasil Analisa
Kriteria
1
pH : -H2o

4,80
Masam

        -KcL

4,52
Masam
2
N. total
%
0,123
Rendah
3
P. tersedia
Ppm
18,095
Sedang
4
C. organik
%
0,187
Sangat rendah

B. organik
%
0,323


C/N

1,52
Sangat rendah
5
C.total
%
1,027

6
K.dd
Me/100 gr
0,461
Sedang
7
Mg.dd
Me/100 gr
0,369
Sangat rendah
8
Al.dd
Me/100 gr
3.309
Sangat rendah
9
Alumunium

0,016

10
KTK
Me/100 gr
9.978
Rendah
11
KA
%
3.444


KKA
%
1.034

Sumber : Hasil analisa laboratorium penelitian pemanfaatan IPTEK dan Nuklir fakultas pertanian, universitas Andalas.
              *Balai Penelitian Tanah, 2005
Keterangan:        C : Karbon                     
BO  : Bahan Organik                       
KTK  : Kapasitas Tukar Kation
K-dd  : Kalium yang dapat dipertukarkan dalam tanah
Ca-dd  : Kalsium yang dapat dipertukarkan dalam tanah
Mg-dd : Magnesium yang dapat dipertukarkan dalam tanah
N  : Nitrogen
P  : Fosfor
K  : Kalium  














Post a Comment

0 Comments