FONOLOGI
PENGERTIAN DAN
JENIS-JENIS FONETIK
Dosen Pengampu : Noor Cahaya, M.Pd
Kelas : Reguler A (A1)
Kelompok 2 :
Ainun
Purnama Laili 1610116120003
Melinda
Aulia Rahmah 1610116120009
Rana
Najmi Soraya 1610116220018
Retno
Sari Maulida 1610116220020
Rina
Rahmawati 1610116220021
Rizka Khairunnisa 1610116220022
Semester 2 Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia
Universitas
Lambung Mangkurat
2016/2017
PENDAHULUAN
Semua
manusia dianugerahi Allah SWT. Mempunyai kemampuan berbicara atau bertutur,
kecuali bagi seseorang yang mempunyai ‘’kekhususan’’, misalnya orang bisu dan
tuli. Kemampuan berbicara atau bertutur ini diperolehnya secara berjenjang
sesuai dengan tingkatan usianya, yaitu
sejak bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Interaksi dengan seseorang
disekitarnya atau disekelilingnnya akan memperoleh bunyi bahasanya. Lebih
banyak interaksi yang dilakukan, lebih cepat pemerolehan (bunyi) bahasa seorang
bayi.
Salah
satu kecenderungan yang menyalahi hukum bahasa adalah apabila ibu bapak dan
orang disekeliling bayi itu menggunakan pengucapan pelat (menirukan ucapan bayi) sebagai tanda
“sayang” pada bayi tersebut. Yang perlu diingat adalah ibu bapak harus
memperkenalkan perkataan yang tepat bunyinya . Kegagalan bayi membunyikan
perkataan dengan betul merupakan hal yang wajar karena ini berkaitan dengan
kemampuan sistem tuturnya.
Sistem tutur ini
akan lebih mudah dilakukan setelah ia
bertambah umurnya dan lebih dewasa contohnya, bunyi [s] lebih sukar diucapkan
dibandingkan dengan bunyi [m] ; bunyi [r] lebih sukar daripada bunyi [l]. Tetapi, lama kelamaan anak ini akan mampu
mengucapkannya. Pemerolehan bunyi bahasa ini bisa dikaji secara scientific (ilmiah).
PENGERTIAN DAN
JENIS-JENIS FONETIK
1.1.Pengertian
Fonetik
Fonetik
merupakan bidang kajian ilmu pengetahuan (science) yang menelaah bagaimana
manusia menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dalam
ujaran, menelaah gelombang-gelombang bunyi bahasa yang dikeluarkan, dan
bagaimana alat pendengaran manusia menerima bunyi-bunyi bahasa untuk dianalisis
oleh otak manusia (O’Connor, 1982:10-11, Ladefoged, 1982: 1). Menurut Clark dan
Yallop (1990), fonetik merupakan bidang yang berkaitan erat dengan kajian
bagaimana cara manusia berbahasa serta mendengar dan memproses ujaran yang
diterima. Lebih lanjut, fonetik ini sangat berguna untuk tujuan-tujuan seperti
pengajaran diksi, penguasaan ujaran bunyi-bunyi bahasa asing, perbaikan
kualitas bertutur bagi mereka yang menghadapi masalah kurang daya
pendengarannya (Lihat Malmberg, 1963).
1.2.Jenis-Jenis Fonetik
Secara
umum fonetik dapat dibagi menjadi tiga bidang kajian, yaitu fonetik fisiologis,
fonetik akustis, dan fonetik auditoris atau fonetik persepsi (Dew dan Jensen,
1977: 19).
1.
Fonetik
Fisiologis atau Fonetik Artikulatoris
Fisiologi
adalah suatu bidang ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang fungsi fisiologis
manusia (Liberman, 1977:3). Sebagaimana kita ketahui, manusia yang normal tentu
mampu menghasilkan berbagai bunyi bahasa dengan menggerakkan atau memanfaatkan
organ-organ tuturnya, misalnya lidah bibir dan gigi bawah (yang digerakkan oleh
rahang bawah). Dengan demikian, seseorang yang ingin mengkaji bunyi-bunyi
bahasa harus mengetahui juga berbagai struktur mekanisme pertuturan, memahami
fungsi setiap mekanisme tersebut, dan peranannya dalam menghasilkan berbagai
bunyi bahasa (Singh dan Singh, 1976:2). Dalam hal ini, bidang fonetik yang
mengkaji tentang penghasilan bunyi-bunyi bahasa berdasarkan fungsi mekanisme
biologis organ tutur manusia dinamakan fonetik fisiologis. (Catatan: Di
beberapa literatur, istilah fonetik fisiologis ini jarang dipakai. Yang paling
sering digunakan adalah fonetik artikulatoris.
2.
Fonetik
Akustis
Kajian
fonetik akustis bertumpu pada struktur fisik bunyi-bunyi bahasa dan bagaimana
alat pendengaran manusia memberikan reaksi kepada bunyi-bunyi bahasa yang
diterima (Malmberg, 1963:1). Ada tiga ciri utama bunyi-bunyi bahasa yang
mendapatkan penekanan dalam kajian fonetik akustik, yaitu frekuensi, tempo, dan
kenyaringan. Alat-alat yang digunakan untuk mengkaji gelombang bunyi bahasa dan
mengukur pergerakan udara antara lain, spektograf (alatuntuk menganalisis dan
memaparkan frekuensi dan tekanan, oscilloskop (alat untuk memaparkan ciri-ciri
kenyaringan bunyi).
Secara ringkas dapat
disimpulkan bahwa dalam rangka pengkajian fonetik akustik, fonetisi berusaha
menguraikan berbagai hal tentang bagaimana suatu bunyi bahasa ditanggapi dan
dihasilkan oleh mekanisme pertuturan manusia, bagaiman pergerakan bunyi-bunyi
bahasa itu dalam ruang udara, yang seterusnya bisa merangsang proses
pendengaran manusia.
3.
Fonetik
Auditoris atau Fonetik Persepsi
Fonetik
auditoris atau fonetik persepsi ini mengarahkan kajiannya pada persoalan
bagaimana manusia menentukan pilihan bunyi-buinyi yang diterima alat
pendengarannya. Dengan arti kata, kajian ini meneliti bagaimana seorang
pendengar menanggapi bunyi-bunyi yang diterimanya sebagai bunyi-bunyi yang
perlu diproses sebagai bunyi-bunyi bahasa bermakna, dan apakah ciri bunyi-bunyi
bahasa yang dianggap penting oleh pendengar dalam usahanya untuk
membeda-bedakan setiap bunyi bahasa yang didngar (Singh dan Singh, 1976:5).
Tegasnya, fonetik auditoris adalah kajian terhadap respons sistem pendengaran
terhadap rangsangan gelombang bunyi yang diterima.
KESIMPULAN
Jadi, fonetik adalah ilmu yang
menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna
dalam suatu bahasa atau suatu bunyi pengucapan huruf yang mengandung arti yang
sama. Jenis-jenis fonetik yaitu fonetik fisiologis atau fonetik artikulatoris,
fonetik akustis dan fonetik auditoris. Dari ketiga jenis fonetik ini yang
palingg berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris, sebab
fonetik ini yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu
dihasilkan atau diucapkan manusia.
0 Comments